Satu
lagi masakan khas Suku Kaili yang wajib Anda cicipi saat berkunjung ke
Kota Palu, yaitu Uta Kelo atau sayur daun kelor. Sesuai dengan namanya,
makanan khas ini menggunakan bahan dasar daun kelor (moringa oleifera). Daun kelor adalah salah satu tanaman yang mudah tumbuh di daerah tropis, termasuk di Indonesia.
Daun
kelor banyak tumbuh di daerah pedesaan sebagai pagar hidup, pembatas
tanah, atau untuk penjalar tanaman lain. Di beberapa daerah, tanaman ini
memiliki nama khusus, misalnya di Madura disebut maronggih, Sunda dan Melayu disebut kelor, Aceh disebut murong, Ternate dan Sulawesi Tengah disebut kelo, Sumba disebut kawona, dan Ranah Minang disebut munggai.
Masyarakat
Indonesia memanfaatkan daun kelor sebagai tanaman obat-obatan dan
sayuran. Namun pada umumnya, daun kelor lebih banyak dibuat sayur. Salah
satunya adalah Suku Kaili di Kota Palu, Sulawesi Tengah yang
memanfaatkan daun kelor sebagai bahan dasar untuk membuat sayur yang
disebut Uta Kelo atau sayur kelor.
Sayur
kelor olahan suku Kaili ini terlihat berbeda dari masakan daun kelor di
daerah lain yang umumnya berbentuk sayur bening. Uta Kelo dimasak
dengan menggunakan santan dan diberi beberapa bahan tambahan seperti
buah pisang kepok yang masih muda, terong ungu, dan ebi kering (lamale ngau).
Adapun jenis daun kelor yang baik untuk dimasak sayur adalah daun kelor
yang masih muda karena selain lembut, rasanya pun tidak pahit.
Uta
Kelo adalah salah satu menu favorit berbuka puasa masyarakat Kota Palu
pada saat bulan Ramadhan. Oleh masyarakat setempat, sayur bersantan ini
diyakini mampu memberi kekuatan ekstra untuk menjalani aktivitas
sehari-hari. Uta Kelo juga dianggap memiliki mitos sendiri, pasalnya
jika ada orang luar Palu memakan sayur yang kaya nutrisi ini, maka besar
kemungkinan dia akan menjadi warga Kota Palu. Penasaran dengan mitos
ini? Datanglah ke Kota Palu untuk membuktikannya!
B. Keistimewaan
Uta
Kelo adalah salah satu masakan khas Suku Kaili yang sudah identik
dengan Kota Palu. Mengenai rasa, sayur ini terasa gurih dan lezat.
Selain itu, sayur ini juga terasa sedikit pedas karena diberi tambahan
cabai rawit hijau yang diiris-iris tipis. Uta Kelo lebih nikmat disantap
dengan nasi jagung atau ubi rebus ditambah dengan duo (sambal
teri nasi) dan ikan katombo (ikan kembung) bakar. Selain rasa yang gurih
dan lezat, Uta Kelo juga termasuk jenis masakan yang sehat untuk
dikonsumsi karena kaya nutrisi.
Cara
membuatnya Uta Kelo cukup mudah. Pertama-tama siapkan bahan-bahan
berupa 15 tangkai daun kelor yang telah dipisahkan dari tangkainya, 500
cc santan, 8 buah pisang kepok muda, 5 buah terong ungu, 20 cabai rawit
hijau, dan 1 genggam ebi kering. Setelah itu, santan dan cabai yang
sudah dihaluskan dimasak hingga mendidih, kemudian masukkan pisang kepok
muda yang sudah diiris tipis lalu tambahkan garam dan penyedap rasa
secukupnya. Setelah pisang kepok matang, masukkan daun kelor, terong,
ebi kering, lalu aduk hingga rata. Saat daun kelor dan terong sudah
lunak dan matang, Uta Kelo diangkat dan siap disajikan untuk 10 orang.
Menurut
hasil penelitian dari para ahli gizi, daun kelor memiliki kandungan
nutrisi sangat lengkap. Tanaman ini sangat kaya vitamin dan mineral
serta mengandung asam animo esensial yang sangat vital sebagai bahan
pembentuk protein. Selain itu, daun kelor termasuk salah satu sumber
vitamin A. Jika dibandingkan dengan wortel, daun kelor memiliki
kandungan vitamin A yang jauh lebih tinggi. Daun kelor juga memiliki
kandungan vitamin C yang lebih tinggi daripada jeruk. Tidak hanya itu,
kandungan kalsium daun kelor 4 kali lipat lebih tinggi dibandingkan
dengan kalsium pada susu, kandungan potasiumnya 3 kali lipat lebih
tinggi dari pisang, kandungan proteinnya 2 kali lipat lebih tinggi dari
yogurt, dan kadar besinya jauh lebih banyak daripada bayam.
Lowell
Fuglie, seorang warga Perancis yang bekerja di Senegal adalah orang
yang pertama kali meneliti kandungan nutrisi daun kelor pada tahun
1990-an. Dalam penelitiannya, ia menemukan bukti bahwa ibu-ibu hamil
yang mengalami gizi buruk masih bisa dibantu untuk memiliki anak yang
sehat dengan cara mengonsumsi daun kelor. Hasil penelitian Lowell Fuglie
ini kemudian dimanfaatkan oleh banyak negara, terutama di Afrika, untuk
memerangi gizi buruk. Tidak mengherankan jika banyak media massa
internasional mempopulerkan pohon kelor sebagai “miracle tree” alias
pohon ajaib, bahkan ada yang menyebutnya sebagai “tree of life” atau
pohon kehidupan.
Selain
dapat menanggulangi gizi buruk, daun kelor juga berkhasiat menyembuhkan
berbagai jenis penyakit. Penyakit-penyakit tersebut, antara lain
hepatitis, hiperlipidemia atau kolestrol tinggi, jantung, darah tinggi,
serta anti radang atau inflamasi (satu dari respon utama sistem
kekebalan terhadap infeksi dan iritasi).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar